Perindo Berencana Tingkatkan Produksi Udang

Bisnis.com, JAKARTA- Perum Perindo berencana memaksimalkan pemanfaatan lahan seluas 40 hektare (ha) milik perusahaan yang ada di Bengkayang, Kalimantan Barat untuk menggenjot produksi udang.

Saat ini, pemanfaatan lahan tersebut masih sepertiganya dengan hasil sekitar 2.000 ton per tahun. 

"Rencananya tahun depan kami full-kan sehingga produksi bertambah," kata Sekretaris Perusahaan Perum Perindo Agung Pamujo kepada Bisnis, Selasa (6/11/2018).

Dengan dimaksimalkannya pemanfaatan lahan ini, produksi udang perusahaan diharapkan bisa meningkat hingga 2,5 kali tahun depan. 

Saat ini, perusahaan masih menjual udang untuk memenuhi kebutuhan domestik. Dengan adanya permintaan udang dari sejumlah negara seperti Filipina, Bangladesh, dan Afrika yang diperoleh dalam Trade Expo Indonesia beberapa waktu lalu, perusahaan juga mulai mempertimbangkan untuk mengekspor udang.

Selain udang dari tambak sendiri, suplai udang perusahaan pun biasanya didukung oleh mitra petambak udang.

Namun, untuk memenuhi permintaan ini, perusahaan dan mitra perlu melakukan perubahan dalam proses panen udang. Pasalnya, selama ini, ukuran udang untuk permintaan dalam negeri berkisar antara 50 ekor -30 ekor per kilogram sementara negara-negara tersebut meminta udang dengan ukuran lebih kecil yakni 100-200 ekor per kilogram.

“Jadi, sebenarnya kami juga bisa lebih untung karena masa budidayanya tidak lama. kami sekarang sedang proses dari hasil TEI (Trade Expo Indonesia) kemarin. Kita sedang investarisasi, review mana yang bisa kita penuhi, kita adakan,” jelasnya.

Source: bisnis.com

KKP Lirik Pengembangan Budi Daya Ikan Bawal Bintang

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pengembangan budidaya komoditas laut yakni bawal bintang dan kakap putih demi memperluas variasi produksi perikanan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP menyebutkan diversifikasi produk budidaya dari selama ini yang lebih fokus pada kerapu menjadi penting baik untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun ekspor.

“Saat ini KKP terus mendorong pembudidaya untuk mengembangkan berbagai jenis ikan laut seperti bawal bintang dan kakap putih. Jenis-jenis ikan ini sangat menguntungkan, tidak hanya ikan kerapu yang selama ini sudah berkembang di masyarakat,” kata Slamet dalam kunjungannya ke Batam dalam rangka pemanenan ikan bawal bintang seperti dikutip dari keterangan pers, Kamis (8/11/2018).

Pernyataan Slamet tersebut didumung oleh sejumlah data terkait kebutuhan ikan khususnya di pasar lokal Kota Batam di mana kebutuhan ikan bawal bintang dan kakap putih tidak kalah banyak dibanding ikan kerapu. 

Kebutuhan per bulan untuk bawal bintang tercatat setidaknya mencapai 600 kg – 2 ton dan kakap putih sebanyak 500 kg – 1 ton, tidak jauh berbeda dibanding kebutuhan ikan kerapu yaitu 500 kg – 1 ton. 

Harganya pun lebih bersaing dan waktu pemeliharaan lebih singkat. Bawal bintang sendiri dihargai Rp90.000 per kg dan kakap putih Rp100.000 per kg dengan masa pemeliharaan masing-masing 6-7 bulan dan 7-8 bulan.

Untuk mendukung kebutuhan ini, unit pembenihan BPBL Batam pun telah mampu memproduksi benih mencapai 1,050 juta ekor benih bawal bintang, 1,050 juta ekor kakap putih, dan 250.000 ekor benih kerapu macan. Sedangkan kapasitas produksi unit pembesaran yaitu 12 ton ikan bawal bintang, 10  ton ikan kakap putih, dan 6 ton ikan kerapu macan.

Kepala BPBL Batam Toha Tusihadi menyebutkan secara hitung-hitungan bisnis, budidaya bawal bintang ini sangat menguntungkan, dengan harga rata rata Rp90.000 per kilogram dan modal kerja untuk benih, pakan, obat-obatan, listrik dan tenaga kerja sebesar Rp58.000 per kg, maka keuntungan yang dapat diraup setidaknya Rp32.000 per kg.

“Benih ikan bawal bintang yang dipanen ini ukurannya 4-5 cm, setelah dipelihara selama 6-7 bulan ukurannya mampu mencapai sekitar 450-500 gram per ekor. Setahun bisa 2 kali panen,” ungkap  saat memberikan keterangan di sela-sela panen.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan yang juga hadir dalam rangka reses menyatakan puas dengan keberhasilan program kegiatan budidaya laut yang dilakukan BPBL Batam bersama-sama masyarakat pembudidaya. Ia menyampaikan bahwa program-program yang berdampak langsung bagi kesejahteraan dan gizi masyarakat serta mendukung ketahanan pangan secara nasional akan terus didukung oleh DPR RI khususnya Komisi IV.

“Kita bisa lihat di panen tadi, budidaya ikan bawal bintang ini sangat menjanjikan. Hitung-hitungan bisnisnya juga sangat memuaskan. Kami akan terus dorong dan dukung pemerintah untuk program yang betul-betul berdampak bagi kesejahteraan pembudidaya ikan. Dengan begitu, kami yakin sektor perikanan dapat menjadi tulang punggung perekonomian bangsa,” ungkap anggota DPR asal Kalimantan Barat ini.

Source: bisnis.com

KKP Fokus Peningkatan Kualitas Produksi Perikanan

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan berencana mengubah arah pola produksi dengan menitik beratkan kepada mutu kualitas dibandingkan dengan jumlah kuantitas. Dengan harapan sektor perikanan bisa meningkatkan nilai produksi.

Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga KKP Suseno mengatakan pelaku usaha harus menangkap peluang potensi daari sektor perikanan baik itu budidaya maupun ikan tangkap. Menurutnya dengan peningkatan produksi sektor perikanan dari 6 juta ton pada 2017 menjadi 12 juta ton pada tahun ini, seharus ada peluang yang bisa dimaksimalkan. Namun, lanjutnya, pemanfaatan sektor perikanan baru 50% saja.

"Nah ini bisa dinaikkan lagi tapi yang paling utama adalah menangkap ikan yang benar. Selama ini tangkap dalam jumlah banyak tapi kualitasnya tidak diperhatikan. Padahal [kualitas] itu yang harus disebarkan," katanya pada Rabu (14/11).

Dia berharap dengan peningkatan kualitas produksi otomatis ada peningkatan nilai. Misalnya saja ikan laut yang disajikan di restoran jepang selalu punya nilai lebih tinggi karena cara tangkapnya yang baik dan tidak mengurangi kualitas dagingnya.

Namun, Suseno juga tidak memungkiri bahwa dengan mendorong kualitas justru akan menjatuhkan volume produksi. "Ya memang [konsekuensi] peningkatan kualitas bisa menurunkan kuantitas. Tapi kami maunya dengan kualitas meningkat, nilainya juga akan naik," katanya.

Meskipun target ini tidak sejalan dengan program SDG yang bermaksud mengentaskan program stunting. Suseno berharap sektor perikanan bisa berkontribusi sebagai bahan pangan pelengkap protein bila harga daging sedang mahal.

"[Intinya] Sekarang adalah pengusaha memanfaatkan ikan banyak tapi harus ramah lingkungan. Seperti masalah [pelarangan penggunaan] cantrang karena menggerus laut dan menimbulkan masalah sosial karena ada yang punya alat pasif seperti pancing," katanya.

Suseno pun menegaskan dalam waktu dekat akan dilaksanakan evaluasi terhadap aturan pelarangan cantrang. Namun belum tahu jadwal pastinya. Pada tahun depan KKP juga akan menitik beratkan kepada sektor budidaya perikanan dibandingkan dengan perikanan tangkap. Hal itu, katanya, juga sudah tercermin dari rencana anggaran untuk budidaya perikanan lebih besar.

Source: bisnis.com

Page 5 of 7

© 2018 Indo Livestock Expo & Forum organised by PT Napindo Media Ashatama. All Rights Reserved.