Pertumbuhan Industri daging di Indonesia Tercepat di dunia

POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berdasarkan data lembaga marketing intelijen yang bermarkas di London, Mintel, Pertumbuhan industri pengolahan daging di Indonesia antara 2011 sampai 2015 adalah tercepat di dunia dengan pertumbuhan rata-rata 26,7% dan omset pada tahun 2016 mencapai Rp 16 triliun. Hal itu disampaikan oleh Ketua National Meat Processing Association (Nampa) Ishana Mahisa, dalam diskusi terkait industri pengolahan daging, pertengahan April lalu. “Hal ini terasa dengan makin tumbuh dan maju industri olahan ditandai dengan masuknya pemain baru. Bila dalam tahun 2010-an yang berinvestasi masih pemain besar seperti PT Charoen Pokphand Indonesia, PT Japfa, dan PT Sierad Produce, maka sekarang banyak bermunculan pemain baru yang rata-rata memiliki back group rumah potong, baik ayam maupun sapi atau bidang lain yang melihat potensi pasarnya terus tumbuh,” papar Ishana.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Nampa, kemampuan produksi industri olahan makanan terlihat mengalami pertumbuhan meskipun kapasitas yang terpasang saat ini masih belum bisa berproduksi secara maksimal karena beberapa faktor. Namun dari sekian banyak faktor tersebut, ketersediaan pasokan bahan baku sangat berpengaruh terhadap produksi industri olahan makanan.

Menurut Ishana, walaupun Indonesia sudah swasembada ayam dalam bentuk live bird, namun bila dilihat dari kacamata industri olahan ayam ternyata masih kurang kompetitif. “Harga ayam tidak kompetitif dan selalu bergejolak. Pasokan pun kadang melimpah dan kadang terbatas, sungguh tidak ideal (bagi industri). Kejadian tersebut dilatarbelakangi oleh industri yang bahan baku utama olahannya merupakan mechanically deboned meat (MDM).

Kementan Imbau Integrator Salurkan 50% Bibit Ayam

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah berharap pelaku usaha perbibitan menjalankan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.26 tahun 2016 tentang penyediaan, peredaran dan pengawasan ayam ras.

Permentan tersebut mewajibkan industri unggas terintegrasi untuk menjual 50% dari total produksi anak DOC kepada para peternak mandiri.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menegaskan para pelaku usah perbibitan wajib menjual DOC kepada peternak mandiri. Namun dia berharap DOC yang dijual merupakan ayam dengan grade A.

"Kami berharap pada integrator memberikan bibit DOC yang Grade A sehingga menghasilkan produksi yang bagus. Kalau dikasih grade B atau C makannya banyak, kualitasnya kurang. Kalau kualitas doc bagus produksi bagus," katanya, belum lama ini.

Pihak Kementan, lanjutnya, akan melakukan audit dan peninjauan kepada para pembibit sudahkah melaksanakan Permentan di atas dalam waktu dekat, sehingga jelas jumlah ayam yang beredar di lapangan ada berapa banyak.

Source: bisnis.com

Perindo Berencana Tingkatkan Produksi Udang

Bisnis.com, JAKARTA- Perum Perindo berencana memaksimalkan pemanfaatan lahan seluas 40 hektare (ha) milik perusahaan yang ada di Bengkayang, Kalimantan Barat untuk menggenjot produksi udang.

Saat ini, pemanfaatan lahan tersebut masih sepertiganya dengan hasil sekitar 2.000 ton per tahun. 

"Rencananya tahun depan kami full-kan sehingga produksi bertambah," kata Sekretaris Perusahaan Perum Perindo Agung Pamujo kepada Bisnis, Selasa (6/11/2018).

Dengan dimaksimalkannya pemanfaatan lahan ini, produksi udang perusahaan diharapkan bisa meningkat hingga 2,5 kali tahun depan. 

Saat ini, perusahaan masih menjual udang untuk memenuhi kebutuhan domestik. Dengan adanya permintaan udang dari sejumlah negara seperti Filipina, Bangladesh, dan Afrika yang diperoleh dalam Trade Expo Indonesia beberapa waktu lalu, perusahaan juga mulai mempertimbangkan untuk mengekspor udang.

Selain udang dari tambak sendiri, suplai udang perusahaan pun biasanya didukung oleh mitra petambak udang.

Namun, untuk memenuhi permintaan ini, perusahaan dan mitra perlu melakukan perubahan dalam proses panen udang. Pasalnya, selama ini, ukuran udang untuk permintaan dalam negeri berkisar antara 50 ekor -30 ekor per kilogram sementara negara-negara tersebut meminta udang dengan ukuran lebih kecil yakni 100-200 ekor per kilogram.

“Jadi, sebenarnya kami juga bisa lebih untung karena masa budidayanya tidak lama. kami sekarang sedang proses dari hasil TEI (Trade Expo Indonesia) kemarin. Kita sedang investarisasi, review mana yang bisa kita penuhi, kita adakan,” jelasnya.

Source: bisnis.com

Page 5 of 9

© 2018 Indo Livestock Expo & Forum organised by PT Napindo Media Ashatama. All Rights Reserved.