Greenfields Bangun Peternakan Sapi Terpadu Rp 612 Miliar di Blitar

JAKARTA, KOMPAS.com - Program kemitraan antara peternak sapi perah dengan industri pengolahan susu (IPS) terus ditingkatkan.

Menteri Peridustrian ( Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, pihaknya terus mendorong industri pengolahan susu di dalam negeri agar semakin meningkatkan produktivitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen baik di pasar domestik maupun ekspor.

"Program kemitraan diharapkan membawa multiplier effect yang akan memacu pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan penyerapan tenaga kerja, sehingga mampu menyejahterakan masyarakat," ujar Menperin melalui keterangan resmi, Rabu (7/3/2018).

Kementan Imbau Integrator Salurkan 50% Bibit Ayam

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah berharap pelaku usaha perbibitan menjalankan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.26 tahun 2016 tentang penyediaan, peredaran dan pengawasan ayam ras.

Permentan tersebut mewajibkan industri unggas terintegrasi untuk menjual 50% dari total produksi anak DOC kepada para peternak mandiri.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menegaskan para pelaku usah perbibitan wajib menjual DOC kepada peternak mandiri. Namun dia berharap DOC yang dijual merupakan ayam dengan grade A.

"Kami berharap pada integrator memberikan bibit DOC yang Grade A sehingga menghasilkan produksi yang bagus. Kalau dikasih grade B atau C makannya banyak, kualitasnya kurang. Kalau kualitas doc bagus produksi bagus," katanya, belum lama ini.

Pihak Kementan, lanjutnya, akan melakukan audit dan peninjauan kepada para pembibit sudahkah melaksanakan Permentan di atas dalam waktu dekat, sehingga jelas jumlah ayam yang beredar di lapangan ada berapa banyak.

Source: bisnis.com

Perindo Berencana Tingkatkan Produksi Udang

Bisnis.com, JAKARTA- Perum Perindo berencana memaksimalkan pemanfaatan lahan seluas 40 hektare (ha) milik perusahaan yang ada di Bengkayang, Kalimantan Barat untuk menggenjot produksi udang.

Saat ini, pemanfaatan lahan tersebut masih sepertiganya dengan hasil sekitar 2.000 ton per tahun. 

"Rencananya tahun depan kami full-kan sehingga produksi bertambah," kata Sekretaris Perusahaan Perum Perindo Agung Pamujo kepada Bisnis, Selasa (6/11/2018).

Dengan dimaksimalkannya pemanfaatan lahan ini, produksi udang perusahaan diharapkan bisa meningkat hingga 2,5 kali tahun depan. 

Saat ini, perusahaan masih menjual udang untuk memenuhi kebutuhan domestik. Dengan adanya permintaan udang dari sejumlah negara seperti Filipina, Bangladesh, dan Afrika yang diperoleh dalam Trade Expo Indonesia beberapa waktu lalu, perusahaan juga mulai mempertimbangkan untuk mengekspor udang.

Selain udang dari tambak sendiri, suplai udang perusahaan pun biasanya didukung oleh mitra petambak udang.

Namun, untuk memenuhi permintaan ini, perusahaan dan mitra perlu melakukan perubahan dalam proses panen udang. Pasalnya, selama ini, ukuran udang untuk permintaan dalam negeri berkisar antara 50 ekor -30 ekor per kilogram sementara negara-negara tersebut meminta udang dengan ukuran lebih kecil yakni 100-200 ekor per kilogram.

“Jadi, sebenarnya kami juga bisa lebih untung karena masa budidayanya tidak lama. kami sekarang sedang proses dari hasil TEI (Trade Expo Indonesia) kemarin. Kita sedang investarisasi, review mana yang bisa kita penuhi, kita adakan,” jelasnya.

Source: bisnis.com

KKP Lirik Pengembangan Budi Daya Ikan Bawal Bintang

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pengembangan budidaya komoditas laut yakni bawal bintang dan kakap putih demi memperluas variasi produksi perikanan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP menyebutkan diversifikasi produk budidaya dari selama ini yang lebih fokus pada kerapu menjadi penting baik untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun ekspor.

“Saat ini KKP terus mendorong pembudidaya untuk mengembangkan berbagai jenis ikan laut seperti bawal bintang dan kakap putih. Jenis-jenis ikan ini sangat menguntungkan, tidak hanya ikan kerapu yang selama ini sudah berkembang di masyarakat,” kata Slamet dalam kunjungannya ke Batam dalam rangka pemanenan ikan bawal bintang seperti dikutip dari keterangan pers, Kamis (8/11/2018).

Pernyataan Slamet tersebut didumung oleh sejumlah data terkait kebutuhan ikan khususnya di pasar lokal Kota Batam di mana kebutuhan ikan bawal bintang dan kakap putih tidak kalah banyak dibanding ikan kerapu. 

Kebutuhan per bulan untuk bawal bintang tercatat setidaknya mencapai 600 kg – 2 ton dan kakap putih sebanyak 500 kg – 1 ton, tidak jauh berbeda dibanding kebutuhan ikan kerapu yaitu 500 kg – 1 ton. 

Harganya pun lebih bersaing dan waktu pemeliharaan lebih singkat. Bawal bintang sendiri dihargai Rp90.000 per kg dan kakap putih Rp100.000 per kg dengan masa pemeliharaan masing-masing 6-7 bulan dan 7-8 bulan.

Untuk mendukung kebutuhan ini, unit pembenihan BPBL Batam pun telah mampu memproduksi benih mencapai 1,050 juta ekor benih bawal bintang, 1,050 juta ekor kakap putih, dan 250.000 ekor benih kerapu macan. Sedangkan kapasitas produksi unit pembesaran yaitu 12 ton ikan bawal bintang, 10  ton ikan kakap putih, dan 6 ton ikan kerapu macan.

Kepala BPBL Batam Toha Tusihadi menyebutkan secara hitung-hitungan bisnis, budidaya bawal bintang ini sangat menguntungkan, dengan harga rata rata Rp90.000 per kilogram dan modal kerja untuk benih, pakan, obat-obatan, listrik dan tenaga kerja sebesar Rp58.000 per kg, maka keuntungan yang dapat diraup setidaknya Rp32.000 per kg.

“Benih ikan bawal bintang yang dipanen ini ukurannya 4-5 cm, setelah dipelihara selama 6-7 bulan ukurannya mampu mencapai sekitar 450-500 gram per ekor. Setahun bisa 2 kali panen,” ungkap  saat memberikan keterangan di sela-sela panen.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan yang juga hadir dalam rangka reses menyatakan puas dengan keberhasilan program kegiatan budidaya laut yang dilakukan BPBL Batam bersama-sama masyarakat pembudidaya. Ia menyampaikan bahwa program-program yang berdampak langsung bagi kesejahteraan dan gizi masyarakat serta mendukung ketahanan pangan secara nasional akan terus didukung oleh DPR RI khususnya Komisi IV.

“Kita bisa lihat di panen tadi, budidaya ikan bawal bintang ini sangat menjanjikan. Hitung-hitungan bisnisnya juga sangat memuaskan. Kami akan terus dorong dan dukung pemerintah untuk program yang betul-betul berdampak bagi kesejahteraan pembudidaya ikan. Dengan begitu, kami yakin sektor perikanan dapat menjadi tulang punggung perekonomian bangsa,” ungkap anggota DPR asal Kalimantan Barat ini.

Source: bisnis.com

Page 6 of 8

© 2018 Indo Livestock Expo & Forum organised by PT Napindo Media Ashatama. All Rights Reserved.