Indonesia Ekspor Kambing ke Abu Dhabi

Bisnis.com, JAKARTA - PT. Inkopmar Cahaya Buana kali ini melaksanakan kegiatan pengiriman perdana sebanyak 300 ekor domba garut atas permintaan Private Department of H.E. Sheikh Mohammed Bin Khalid Al Nahyan ke wilayah Abu Dhabi – Uni Arab Emirates.

CEO Inkopmar Cahaya Buana Rio Lukman mengatakan, domba-domba tersebut akan didatangkan secara bertahap ke negara Timur Tengah tersebut.

Dia mengatakan ekspor tersebut menjadi salah satu misi untuk meningkatkan program pemerintah indonesia dalam meningkatkan dan mengembagkan komoditi pasar ekspor hewan menjadi modal dasar untuk membuka peluang ekspansi lebih besar ke wilyah negara timur tengah potensial lainnya.

"Kami menjadikan ekspor hewan ini adalah salah satu bentuk upaya mendukung program swasembada protein dan tentunya berupaya meningkatkan kesejahteraan para peternak hewan khususnya domba di wilayah republik indonesia,” kata Lukman di Apron 1 Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, seperti dikutip dari siaran persnya.

Dia mengatakan pihaknya berharap pemerintah dapat terus mendukung dengan mempermudah proses perizinan dan memberikan perhatian lebih untuk fasilitas kandang karantina hewan di bandara untuk hewan domba yang akan di berangkatkan sehingga dapat mengurangi resiko terkena stress dan sakit.

Dengan ekspor kali ini, pihaknya berharap pemerintah bisa membuat RPH (Rumah Potong Hewan) khusus domba dan kambing sehingga Indonesia bisa meningkatkan nilai tambah dengan mengekspor produk frozen meat sheep.

Source: bisnis.com

200.000 Sapi di Lampung Masuk Program Wajib Bunting

BANDAR LAMPUNG - Sebanyak 200.000 ekor sapi diharapkan bisa mengalami kebuntingan melalui program upaya khusus sapi wajib bunting (Upsus Siwab) di Lampung pada tahun depan.

Angka ini mengalami peningkatan 76,36% dari target tahun ini sebesar 113.400 ekor. Tingginya tingkat keberhasilan menjadi salah satu alasan pemerintah provinsi menaikkan target program tahun depan.

"Lampung ini selama dua tahun berturut turut dalam pelaksanaan siwab ini boleh dikatakan kita berhasil, selalu di atas 100% baik pelaksanaan inseminasi buatannya maupun kebuntingannya dan kelahirannya," kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi Lampung Dessy Desmaniar Romas di sela-sela kunjungannya ke salah satu kandang pembiakan sapi program kerja sama pemerintah Indonesia-Australia bernama Indonesia-Australia Commercial Cattle Breeding Program, Kamis (15/11/2018).

Menurut Dessy, dari target kebuntingan sebesar 113.400 capaiannya telah mencapai 138% adapun realisasi akseptor mencapai 148% dari target sebesar 162.000 ekor.

Sementara itu, untuk realisasi kelahiran menurutnya, saat ini, telah mencapai 95.000 an ekor dari target sebesar 90.720 ekor. Realisasi kelahiran diharaokan bisa terus bertambah hingga melebihi angka 100.000 ekor sampai akhir tahun.

Keberhasilan pembiakan sapi di Lampung menurutnya tak lepas dari suplai pakan yang melimpah di daerah ini. Hanya saja, masyarakat masih perlu sosialisasi manajemen pakan agar bisa terus tersedia sepanjang tahun baik di musim penghujan dan kemarau.

"Budidaya ini kan masalah pakan ya karena sekitar 60-70% itu buat pakan. Tantangannya mengajar mereka di musim hujan ini di mana pakan banyak mereka kadang ga mau menyimpan karena kan budaya mereka nyari pakan itu lebih senang daripada menyimpan," tambahnya.

Untuk mendukung program ini, pihaknya pun menyalurkan bantuan unit pengolahan pakan sehingga bisa disimpan untuk waktu lebih lama dan digunakan kemudian.

Saat ini, Lampung memiliki sekitar 700.000 ekor sapi dengan potensi pengembangan hingga 3 juta ekor. Adapun sentra-sentra sapi di Lampung ada di Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Lampung Tengah.

Namun, menurutnya Lampung masih harus menempuh jalan panjang hingga bisa memaksimalkan potensi yang ada. Selain itu, saat ini Lampung juga menjadi penyuplai sapi ke daerah sekitar seperti Jabodetabek.

"Jadi, asal tiga kabupaten itu berhasil, itu Lampung pun juga berhasil karena lampung juga sudah ditunjuk sebagai salah satu dari 7 provinsi produsen ternak yang artinya kita harus siap mensuplai baik di Jabodetabek maupun di wilayah Sumatra lainnya karena sudah menjadi provinsi produsen sapi," tambahnya.

Source: bisnis.com

Pelaku Usaha Ternak Diimbau Manfaatkan Big Data

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha di bisnis peternakan diimbau harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk bisa meningkatkan konsumsi protein.

Pengamat ekonomi pertanian, Bayu Krisnamurthi mengatakan pelaku usaha harus bisa memanfaatkan big data kalau ingin mengejar ketinggalan yang selaras dengan industri 4.0. Dengan begitu, pelaku usaha mendapatkan informasi yang diingingkan oleh konsumen akhir.

"Gunakan big data. Dari sisi kuliner konten tentang cake empat kali lebih banyak dari ayam goreng. Artinya ini menjadi dasar alasan mengapa terigu sudah mengisi 25% dari total konsumsi karbohidrat di Indonesia. Harusnya info seperti ini kita manfaatkan. Kalau mau dorong konsumsi protein gunakan big data jadi kita tau promosinya harus bagaimana," katanya pada Kamis (22/11) saat Seminar Nasional Bisnis Peternakan.

Pasalnya, menurut Bayu pelaku usaha secara umum yang sudah bergerak ke arah revolusi industri 4.0 yang memanfaatkan teknologi data baru 5% sedangkan mayoritas masih bergerak di industri 2.0 yang memanfaatkan listrik. Sementara khusus di sektor peternakan memang pemain besar sudah memulai industri 4.0, tapi baru pada bagian hulu yakni teknologi perkandangan.

Sementara di sektor hilir, dia belum melihat hal tersebut. Maka dia menyarankan supaya pelaku usaha bekerjasama dengan industri ritel e-commerce yang telah menghimpun data tentang preferensi konsumen. Dengan begitu investasi untuk membangun big data bisa ditekan.

"Revolusi industri 4.0 pasti akan banyak mengubah [industri peternakan] tapi tidak buru-buru. Perubahan itu konsisten, jadi jangan lalai," katanya.

Menurutnya, bukan hal yang tidak mungkin di kemudian hari konsumen akan meminta bagian yang spesifik dari sebuah ayam potong seperti yang terjadi pada sapi. Misalnya permintaan paha atas atau paha bawah lebih tinggi daripada yang lainnya. Oleh sebab itu pelaku usaha tidak bisa hanya berbicara tentang menjual karkas tapi harus lebih spesifik lagi kalau ingin meningkatkan konsumsi protein.

"Dengan begitu permintaan daging ayam dan telur juga naik. Hal itu pasti berdampak pada obat hewan. Ingat, 60% ekonomi kita masih digerakkan oleh konsumsi," katanya.

Bayu menyarankan agar pelaku juga mulai menyasar ke kota-kota satelit yang mulai berkembang seperti Jember cilacap bogor purwokerto dan sidoarjo. Pasalnya, kota-kota berkembang memiliki kecenderungan konsumsi yang terus tumbuh. "Konsumsi per kapita kita masih jauh dibandingkan negara sekitarnya kemungkikanan tidak ada ekstra stimulus dari pemerintah. Apalagi, tahun pemilu tidak banyak kebijakan baru," katanya.

Selain itu, Bayu memperkirakan pada tahun pemilu kemungkinan akan memberikan injeksi konsumsi 1-3 bulan sebelum berlangsungnya hajatan demokrasi. Tapi, pelaku usaha harus mewaspadai di momentum Lebaran yang jatuh di musim pancaroba sebab bagaimana pun pasti ada perubahan pola konsumsi.

"Banyak yang memperkirakan konsumsi di momen itu tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Apalagi 90% dipastikan akan terjadi El-Nino," pungkasnya.

Source: bisnis.com

Page 7 of 9

© 2018 Indo Livestock Expo & Forum organised by PT Napindo Media Ashatama. All Rights Reserved.