• header-indo-livestock.jpg
  • seminar.jpg
  • visitor.jpg

Manfaatkan Limbah, Pabrik Olahan Nanas Punya Peternakan Sapi

Lampung -Limbah industri nanas bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak sapi. Sapi-sapi di PT Great Giant Live Stock (GGLS), Lampung Tengah, terlihat gemuk-gemuk diberi pakan dari limbah pabrik pengalengan nanas.

Peternakan sapi terletak satu komplek dengan pabrik pengalengan nanas milik PT Great Giant Pineapple, yang merupakan pabrik olahan nanas terbesar di Lampung.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman usai meninjau pabrik pengalengan nanas, bergerak ke lokasi peternakan sapi PT Great Giant Live Stock (GGLS). Di peternakan ini, limbah daun nanas dimanfaatkan sebagai pakan hijauan ternak.

"Ini peternakan sapi pakai pakan limbah daun tanaman nanas, Pak. Semua ada 2.500-3.000 ekor sapi Brahman indukan dari Australia," kata Dayu, Manajer Dairy Farm PT Great Giant Live Stock, Kamis (12/11/2015).

PT GGLS menggandeng peternak lokal untuk mengembangbiakkan sapi-sapi indukan impor dari Australia ini.

"Ini anakan kita hasilkan sendiri. Indukannya sapi Brahman dari Australia. Kami ada MoU nya kerja sama rawat sapi inti plasma. Satu petani dapat 10 sapi," kata Dayu Aristanti, Direktur PT Great Gian Llivestock di lokasi peternakan, Kamis (12/11/2015).

Para petani mendapat bibit-bibit sapi gemuk terbaik dari PT GGL untuk diternakkan. Total sapi yang dimiliki PT GGLS termasuk inti plasma mencapai 2.500-3.000 ekor.

"Mereka mendapatkan sapi setelah kami seleksi dulu yang bagus-bagus. Petani datang ke sini untuk ambil," jelas Dayu.

Amran sempat bertanya soal asal konsentrat dan pakan ternak. "Yang sediakan konsentrat siapa?" tanya Mentan.

"Konsentrat dari kami pak. Ini semua pakan dari limbah daun nanas pak," kata Dayu.

Mentan kembali bertanya, apakah usaha ternak sapi inti plasma tersebut secara ekonomis layak.

"Feasible nggak?" tanya Mentan.

"Iya pak, dua-duanya harus untung. petani harus untung, kami juga," kata Dayu.

Amran pun penasaran ingin menengok langsung lokasi peternak yang bekerja sama dengan PT GGLS untuk beternak sapi-sapi dari perusahaan tersebut.

"Ada peternak lokal? ayo kita lihat," kata Mentan.

Tidak lama di peternakan, Mentan tertarik untuk menengok langsung petani. Rombongan pun bergerak menuju rumah salah seorang peternak sapi mita PT GGLS. Mentan kemudian menyapa peternak bernama Eko.

"Sudah berapa lama sapinya?" tanya Mentan.

"Dua tahun, pak. Sudah untung dapat anak sapi 2 selama satu tahun. Dapat sapi dua ekor bulan Agustus tahun lalu," kata Eko.

Dayu menjelaskan, PT GGLS berupaya meningkatkan populasi ternak lokal dan memperbaiki kualitasnya dengan cara memberi bantuan inseminasi buatan mencapai 10 kali suntik. Eko termasuk salah satu petani yang menjadi mitra. Eko mendapat dua ekor sapi indukan dan saat ini sudah beranak dua ekor.

"Kami coba tingkatkan populasi sapi di sini. Setelah laktasi, kita buat bunting lagi. Peternak yang performance bagus, kita tambah lagi. Hasil anakan kita bagi dua. Satu milik Peternak, satu milik PT GGLS," kata Dayu.

Inti plasma, kata Dayu, bagi hasilnya dilakukan dengan proporsi 50:50. Eko berhasil menghasilkan dua anakan, maka satu ekor menjadi miliknya. Satu ekor lainnya menjadi milik PT GGLS.

"Peternak dapat betina, yang ngga bagus dipotong. Yang bagus jadi bibit. Kami drop lagi kalau hasilnya bagus. Dari induk, sudah ada anakan lagi," jelas Dayu.

Dayu menceritakan program integrasi nanas-sapi terus berkembang. Peternak berhasil menghasilkan anakan dari sapi yang diberikan oleh PT GGLS. Pengembangan terkendala oleh keterbatasan lahan dan jumlah peternak hingga bea masuk sapi indukan. 

"Hasilnya bagus, peternak bisa hasilkan anakan dan rawat sapi dengan baik. Kita mau tambah terus jumlah sapinya, tapi terkendala lahan terbatas dan jumlah peternak pun tidak banyak. Bea masuk sapi indukan, Pak. Masih 5%," jelas Dayu.

Mentan pun merespon keluhan Dayu dengan akan mempertimbangkan usulannya terkait bea masuk sapi indukan impor. "Kami bisa bantu itu kalau indukan," kata Mentan.

sumber: http://finance.detik.com/read/2015/11/12/155828/3069382/4/manfaatkan-limbah-pabrik-olahan-nanas-punya-peternakan-sapi

Incorporating with

  • indodairy.png
  • indofeed.png
  • indofisheries.png

Supported by

                     

 

Official Local Publication

       
       
         

Supporting Publications

 
                   
         
                   
                   

 

 

Contact Online

Show Info

Date:   
17 - 19 May 2017

Venue:
Grand City Convex, Surabaya-Indonesia

Visiting hours:    
10.00am - 6.00pm ( 17-18 May 2017)
10.00am - 5.30pm ( 19 May 2017)