Pelaku Usaha Ternak Diimbau Manfaatkan Big Data

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha di bisnis peternakan diimbau harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk bisa meningkatkan konsumsi protein.

Pengamat ekonomi pertanian, Bayu Krisnamurthi mengatakan pelaku usaha harus bisa memanfaatkan big data kalau ingin mengejar ketinggalan yang selaras dengan industri 4.0. Dengan begitu, pelaku usaha mendapatkan informasi yang diingingkan oleh konsumen akhir.

"Gunakan big data. Dari sisi kuliner konten tentang cake empat kali lebih banyak dari ayam goreng. Artinya ini menjadi dasar alasan mengapa terigu sudah mengisi 25% dari total konsumsi karbohidrat di Indonesia. Harusnya info seperti ini kita manfaatkan. Kalau mau dorong konsumsi protein gunakan big data jadi kita tau promosinya harus bagaimana," katanya pada Kamis (22/11) saat Seminar Nasional Bisnis Peternakan.

Pasalnya, menurut Bayu pelaku usaha secara umum yang sudah bergerak ke arah revolusi industri 4.0 yang memanfaatkan teknologi data baru 5% sedangkan mayoritas masih bergerak di industri 2.0 yang memanfaatkan listrik. Sementara khusus di sektor peternakan memang pemain besar sudah memulai industri 4.0, tapi baru pada bagian hulu yakni teknologi perkandangan.

Sementara di sektor hilir, dia belum melihat hal tersebut. Maka dia menyarankan supaya pelaku usaha bekerjasama dengan industri ritel e-commerce yang telah menghimpun data tentang preferensi konsumen. Dengan begitu investasi untuk membangun big data bisa ditekan.

"Revolusi industri 4.0 pasti akan banyak mengubah [industri peternakan] tapi tidak buru-buru. Perubahan itu konsisten, jadi jangan lalai," katanya.

Menurutnya, bukan hal yang tidak mungkin di kemudian hari konsumen akan meminta bagian yang spesifik dari sebuah ayam potong seperti yang terjadi pada sapi. Misalnya permintaan paha atas atau paha bawah lebih tinggi daripada yang lainnya. Oleh sebab itu pelaku usaha tidak bisa hanya berbicara tentang menjual karkas tapi harus lebih spesifik lagi kalau ingin meningkatkan konsumsi protein.

"Dengan begitu permintaan daging ayam dan telur juga naik. Hal itu pasti berdampak pada obat hewan. Ingat, 60% ekonomi kita masih digerakkan oleh konsumsi," katanya.

Bayu menyarankan agar pelaku juga mulai menyasar ke kota-kota satelit yang mulai berkembang seperti Jember cilacap bogor purwokerto dan sidoarjo. Pasalnya, kota-kota berkembang memiliki kecenderungan konsumsi yang terus tumbuh. "Konsumsi per kapita kita masih jauh dibandingkan negara sekitarnya kemungkikanan tidak ada ekstra stimulus dari pemerintah. Apalagi, tahun pemilu tidak banyak kebijakan baru," katanya.

Selain itu, Bayu memperkirakan pada tahun pemilu kemungkinan akan memberikan injeksi konsumsi 1-3 bulan sebelum berlangsungnya hajatan demokrasi. Tapi, pelaku usaha harus mewaspadai di momentum Lebaran yang jatuh di musim pancaroba sebab bagaimana pun pasti ada perubahan pola konsumsi.

"Banyak yang memperkirakan konsumsi di momen itu tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Apalagi 90% dipastikan akan terjadi El-Nino," pungkasnya.

Source: bisnis.com

© 2018 Indo Livestock Expo & Forum organised by PT Napindo Media Ashatama. All Rights Reserved.