Jakarta, Maret 2026 — Di tengah meningkatnya minat terhadap penyelenggaraan pameran internasional sektor peternakan dan agribisnis di Indonesia, Indo Livestock kembali menegaskan posisinya sebagai pionir dan penggerak utama ekosistem industri peternakan nasional. Bertambahnya jumlah partisipan dari dalam dan luar negeri menjadi sinyal positif bahwa sektor ini semakin bertumbuh, dinamis, dan menjanjikan di mata para pelaku usaha.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2002, Indo Livestock telah tumbuh bersama industri dan dikenal luas sebagai pameran peternakan karya anak bangsa terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Selama lebih dari dua dekade, ajang ini konsisten menjadi titik temu strategis bagi produsen, distributor, peternak, asosiasi, akademisi, hingga investor untuk membangun kolaborasi dan membuka peluang bisnis baru.
Tren pertumbuhan industri tercermin dari meningkatnya partisipasi peserta setiap tahun. Pada penyelenggaraan terakhir di Jakarta pada tahun 2024, Indo Livestock diikuti oleh 580 perusahaan dari 40 negara, dengan komposisi kepesertaan domestik sebesar 40,86% dan peserta internasional mencapai 59,14% serta total 18.476 pengunjung profesional. Data ini menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan dan daya saing pelaku industri dalam negeri. Kepercayaan industri yang terus meningkat ini, kembali diperkuat pada Indo Livestock 2026 Expo & Forum, yang dituanrumahi oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH).
Peningkatan partisipasi tersebut tidak terlepas dari kondisi industri peternakan nasional yang menunjukkan pertumbuhan positif. Statistik resmi sektor peternakan menunjukkan momentum positif dalam produksi pangan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan proyeksi Badan Pangan Nasional mencatat produksi telur ayam petelur mencapai sekitar 6,34 juta ton pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi 6,52 juta ton pada 2025. Angka ini diperkirakan melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada di kisaran 6,22 juta ton.
Tren pertumbuhan juga terlihat pada produksi daging ayam ras pedaging, yang tercatat sebesar 3,83 juta ton pada 2024 dan diperkirakan meningkat menjadi 4,25 juta ton pada 2025. Proyeksi tersebut melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang diperkirakan sekitar 3,87 juta ton, mencerminkan kapasitas industri perunggasan nasional yang semakin kuat serta peluang perluasan distribusi, hilirisasi, dan ekspansi pasar domestik maupun internasional. Sementara itu, berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan 2025, produksi daging sapi/kerbau dalam negeri diperkirakan mencapai 555,1 ribu ton, meningkat 17,8 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 471,2 ribu ton. Secara keseluruhan, dinamika produksi berbagai komoditas strategis ini menunjukkan penguatan kapasitas industri peternakan Indonesia dalam memenuhi permintaan domestik secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat optimisme pelaku usaha dan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi di sepanjang rantai nilai peternakan nasional
(Sumber: Badan Pangan Nasional)
Seiring dengan capaian tersebut, penguatan sektor peternakan juga menjadi bagian dari arah pembangunan nasional dan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan, khususnya dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat. Dengan sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang besar, serta pelaku usaha yang semakin adaptif terhadap perubahan teknologi dan pasar, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk menuju kemandirian pangan.
Bagi penyelenggara, fenomena pertumbuhan industri ini bukan sekadar kompetisi, melainkan momentum untuk memperkuat sinergi lintas pemangku kepentingan. Indo Livestock tidak hanya berperan sebagai pameran dagang, tetapi telah berkembang menjadi platform kolaborasi industri yang mempertemukan inovasi, teknologi, edukasi, dan investasi untuk mendorong modernisasi sektor peternakan Indonesia agar lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Kemandirian pangan bukanlah tujuan instan, melainkan perjalanan bersama. Karena itu, kehadiran Indo Livestock diharapkan menjadi katalisator yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat transformasi industri dari hulu ke hilir.
“Kami percaya kemajuan industri tidak dibangun sendiri-sendiri. Sejak 2002, Indo Livestock tumbuh bersama pelaku usaha dan menjadi pameran peternakan terbesar karya anak bangsa. Bertambahnya pameran dan pemain baru justru memperkuat ekosistem. Selaras dengan semangat kemandirian pangan nasional, kami berkomitmen untuk terus berjalan hand in hand, menyatukan kekuatan, membuka akses teknologi dan pasar, serta memastikan pelaku usaha Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus pemain penting di tingkat global,” ujar Lisa Rusli, Project Director PT Napindo Media Ashatama.
Dalam setiap penyelenggaraan, Indo Livestock menghadirkan berbagai program strategis yang mendukung pengembangan industri peternakan nasional, termasuk business matchmaking, forum edukasi, dan presentasi teknis produk. Rangkaian kegiatan ini juga dilengkapi dengan Youth Farmers Day dengan tema “From Farm to Fame” sebagai panggung inspiratif bagi peternak milenial, startup, dan komunitas muda peternakan, serta Zona Farmpreneurship yang menampilkan solusi dan paket usaha peternakan modern bagi calon pengusaha muda dan investor, guna memperkuat regenerasi pelaku industri dan pengembangan kewirausahaan sektor peternakan.
Selain mendorong pengembangan industri, Indo Livestock juga berperan dalam edukasi publik terkait konsumsi protein hewani dan gizi masyarakat. Sebagai bagian dari dukungan terhadap program pemerintah, Sosialisasi SDTI 2026 diinisiasi untuk mengoptimalkan penyampaian pentingnya gizi seimbang dan pola makan sehat kepada masyarakat, khususnya orang tua, guru, dan generasi muda, melalui keterlibatan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan media, dengan mengusung tema “Gizi Seimbang, Generasi Gemilang”.
Indo Livestock 2026 Expo & Forum akan diselenggarakan bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum pada 16–18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Indonesia. Pameran ini ditargetkan menarik lebih dari 600 peserta dari 40 negara, 12 paviliun negara, serta 20.000 pengunjung yang terdiri dari pelaku usaha, inovator, pembuat kebijakan, akademisi, hingga peneliti.