Kurangi Ketergantungan Impor, Korporasi Besar Sasar Industri Hulu Persusuan

“Susu segar ke depan punya pasar yang bagus, terutama di kalangan kelas menengah ke atas, harganya saja sampai Rp35.000/liter di tingkat ritel. Mereka punya segmen sendiri sehingga prospeknya luar biasa. Kalau di Amerika atau di Eropa, yang dikonsumsi itu kan susu segar,” kata Teguh saat dihubungi Bisnis, Jumat (23/8/2019). 

Berdasarkan catatan outlook susu sapi Kementerian Pertanian, pertumbuhan kebutuhan susu sapi diperkirakan tumbuh lebih dari 5 persen setiap tahunnya. Sementara itu, laju pertumbuhan produksi dalam negeri diproyeksi tumbuh hanya di angka 2 persen. 

Teguh tak memungkiri jika keberadaan investasi dari perusahaan besar tersebut turut berkontribusi dalam produksi susu nasional. Pertambahan itu dia sebut didukung dengan importasi sapi perah yang dilakukan oleh perusahaan pengolahan susu seperti Greenfields dan Great Giant Livestock di beberapa daerah. 

Ia pun menyebutkan industri dalam skala menengah lokal pun menunjukkan minat untuk melakukan investasi lebih di sisi hulu. USDA melaporkan ekspansi peternakan besar terintegrasi dalam tiga bulan terakhir pada 2017 setidaknya berhasil menggenjot produksi susu dari 651.990 ton pada 2017 dan menjadi 678.770 ton pada 2018. 

Korporasi besar hanya memiliki 10% sapi perah dari total populasi yang tercatat, namun berkontribusi pada 23 persen produksi susu segar. USDA mencatat efisiensi tersebut didukung dengan tingkat produktivitas sapi perah yang bisa mencapai 20 liter/ ekor/hari. 

“Sudah banyak perusahaan yang mengembangkan sapi perah dengan cara modern. Contohnya di Subang, ada beberapa perusahaan yang investasi dalam skala besar, begitu pula di Sumatera Utara. Perusahaan lokal juga ada yang sudah merintis usaha produksi hulu,” kata Teguh.

© 2018 Indo Livestock Expo & Forum organised by PT Napindo Media Ashatama. All Rights Reserved.