Cargill Rilis Pakan Ternak Tanpa Antibiotik, Diklaim Dorong Efisiensi Produksi

Sejak AGP dilarang lewat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14 Tahun 2017, Ivan menyebutkan tingkat kematian ayam petelur pada masa pengembangan meningkat sampai 6 persen dari total populasi dan bisa menyentuh 20 persen apabila diserang penyakit endemik. Padahal jumlah kematian normal pada fase ini sebelumnya berada di kisaran 1 persen –2 persen.

“Inilah yang mendorong Cargill untuk mengembangkan pakan ternak tanpa antibiotik. Selain mengatasi masalah kesehatan, produktivitas juga meningkat lewat pasokan pakan bernutrisi,” kata Ivan dalam peluncuran produk pakan QMax di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Seri Qmax sendiri diproduksi dengan segmentasi pada setiap fase perkembangan ayam layer, mulai dari fase starter sampai fase produksi yang biasanya dimulai pada pekan ke-18. Manajer Pengembangan Bisnis Cargill Indonesia Adi Widyatmoko menyebutkan setiap jenis pakan tersebut diproduksi dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi hewan di setiap fase.

Hasil uji coba yang dilaksanakan selama setahun terakhir memperlihatkan bahwa penggunaan QMax tercatat mampu memperpanjang puncak produksi dari rata-rata 20 minggu menjadi lebih dari 22 minggu. Berat telur yang dihasilkan pun umumnya bisa dipertahankan pada kondisi ideal di kisaran 60-63 gram.

Sedangkan dari perhitungan analisis ekonomi yang dilakukan, peternak ayam petelur berpotensi mendapat tambahan laba sampai Rp500/kg setelah menggunakan seri ini.

“Dengan keahlian global Cargill Feed & Nutrition dalam rantai pasokan dan manajemen risiko memungkinkan kami untuk menawarkan nilai berbeda kepada pelanggan kami melalui produksi pakan berkualitas tinggi dan distribusi yang efisien,” kata Adi.

© 2018 Indo Livestock Expo & Forum organised by PT Napindo Media Ashatama. All Rights Reserved.