Kementan Siapkan Program Pengembangan Produksi Induk Ayam

"Terkait dengan GPS ini, kami sudah punya program untuk menghentikan impor dengan produksi sendiri. Sudah berjalan namun belum siap [launching] di Subang," kata Ketut di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Indonesia tercatat masih melakukan importasi GPS untuk pengembangan ayam ras broiler maupun petelur di dalam negeri. Pada 2018 dan 2019, pemerintah memberi kuota impor sebanyak 707.000 ekor GPS yang diberikan kepada 14 perusahaan pembibitan.

Pemerintah sebelumnya memproyeksikan alokasi impor GPS sebanyak 787.000 ekor untuk 2019 atau meningkat 11,31% dari alokasi 2018 yang berjumlah 707.000 ekor. Volume impor pada 2018 itu pun naik sekitar 10% dibanding 2017.

Alokasi awal yang memperlihatkan tren pertumbuhan alokasi tersebut didasari proyeksi konsumsi daging ayam ras yang diperkirakan mencapai 3,69 juta ton dengan konsumsi per kapita per tahun di angka 13,5 kg. Jumlah penduduk pun diperkirakan mencapai 273,98 juta pada 2021 mendatang.

 

Adapun untuk 2019, konsumsi daging ayam ras diperkirakan mencapai angka 12,13 kg/kapita/tahun dengan jumlah penduduk secara nasional berjumlah 268,07 juta.

Desakan untuk merevisi alokasi impor GPS sendiri sempat mengemuka usai kalangan peternak mengeluhkan harga ayam pedaging siap potong (livebird) yang anjlok di bawah acuan. Peternak mandiri menilai kondisi ini disebabkan oleh tak seimbangnya produksi ayam dengan kebutuhan nasional.

"Ini sudah 90%, tapi belum di-launching karena uji lapangan belum keluar. Kalau hasilnya sudah keluar dan sesuai dengan di negara asal di mana setiap GPS bisa menghasilkan 40 PS [parent stock] dan setiap PS menghasilkan 140 FS [final stock], akan kami rilis," imbuhnya.

© 2018 Indo Livestock Expo & Forum organised by PT Napindo Media Ashatama. All Rights Reserved.